Jual Motor Pribadi 2 Kali Demi Terbitkan Buku: Riwayat Sang Penyair

Jual Motor Pribadi 2 Kali Demi Terbitkan Buku: Riwayat Sang Penyair

169

Bagi anda yang gemar dan pecinta karya sastra, pasti tidak asing dengan sosok Penyair Muhammad Amir Jaya. Karya-karyanya telah menghiasi rubrik sastra berbagai media cetak lokal dan nasional serta telah menulis puluhan judul buku. Meski begitu, perjalanan hidup sang pejuang saatra ini belum banyak diketahui orang. Nah… Redaksi TITIK7 kali ini mencoba menghadirkannya dalam rupa kisah inspiratif.

Penyair asal Tana Doang Kepulauan Selayar ini, memiliki banyak kisah ‘unik’ dalam melakoni hidupnya sebagai penulis. Sejak duduk di bangku SMA memang ia telah aktif menulis artikel, puisi dan cerpen di berbagai media massa. Tulisan-tulisannya dimuat di antaranya; majalah Fakta, Panji Masyarakat, majalah Amanah, Tabloid Wanita Indonesia, Tabloid Karina, Majalah Higina, majalah Keluarga, dan lainnya.

“Sejak SMA saya sudah aktif menulis dan dapat honor lumayan. Misalnya, tulisan artikel dan reportase di majalah, saya sudah dibayar Rp 90.000 untuk satu tulisan,” kata Muhammad Amir Jaya saat berbincang lepas di kediamannya sekaligus Rumah Puisi ARYA STR, Jumat (3/4/2020).

Awalnya, Amir Jaya menambahkan, dirinya sekadar iseng menulis karena kebetulan ada kegiatan Taraining Centre :Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)” di sekolahnya. Namun kegemarannya membaca buku dan majalah membuatnya tertarik menulis kegiatan tersebut dan mengirimnya ke majalah yang bersangkutan disertai dengan foto-foto. Alhamdulillah, ternyata tulisan itu dimuat dan diberi honor Rp 35.000. Pada era 1980-an itu, honor tersebut cukup besar bagi dirinya.

Ia pun semakin giat membaca dan memeriksa setiap majalah dan tabloid yang terbit di Jakarta. “Setiap hari itu saya selalu nongkrong di penjual majalah di depan kantor Pos. Atau saya nongkrong di penjual majalah di Jl. Sungai Cerekang. Tujuan saya adalah membaca dan memahami misi yang diemban setiap media,” urai penulis buku Janda Perawan yang Dilempar Keluar Jendela ini.

Muhammad Amir Jaya, seorang penyair tinggal di Makassar. – Foto: Handover

M.Amir Jaya pun semakin produktif menulis karena menerima honor yang cukup lumayan. Dari honor yang diterimanya, lelaki perenung dan hobi membaca itu, akhirnya membeli tustel butut dan sejumlah buku-buku yang berkaitan dengan dunia kepenulisan atau buku-buku jurnalis. Ia pun belajar secara otodidak.

Walaupun demikian, ia mengaku sangat produktif menulis ketika kuliah di IKIP Ujung Pandang. Semua jenis tulisan digarapnya.

“Saya menulis di Tabloid Wanita Indonesia itu dengan honor Rp 125.000. Sementara uang semester di IKIP pada masa itu hanya Rp 60.000. Artinya, satu tulisan saya bisa melunasi SPP dua semester,” kata M.Amir Jaya mengenang masa-masa produktifnya sebagai penulis.

Selain menulis di media nasional, M.Amir Jaya juga mengaku, aktif menulis puisi, cerpen dan opini di media lokal terutama di Harian Pedoman Rakyat dan Fajar. Cuma honornya waktu itu tidak seberapa. “Media yang terbit di Makassar itu, kita hanya dibayar Rp 1500.

Tetapi bukan karena honornya, melainkan kebahagiaan yang dirasakan ketika tulisan kita dimuat. Itu yang membuat saya tetap produktif menulis,” turur M.Amir Jaya yang telah melahirkan sejumlah buku.

Sebagai penulis, kata M.Amir Jaya, ada satu hal yang selalu diimpikannya. Setiap menyambangi toko buku, ia selalu terobsesi bagaimana tulisan-tulisannya itu bisa dibukukan.

Buku karya Muhammad Amir Jaya yang rencananya akan terbit akhir April 2020. – Foto: Dok. M. Amir/handover

“Suatu hari saat membeli buku di toko buku Gramedia, saya berdoa agar tulisan-tulisan saya yang tercecer bisa dibukukan. Bahkan ada tulisan saya “Tafakkur di Gramedia”. Tulisan ini dimuat di buku “Tips Menjadi Penulis” yang diterbitkan Penerbit Rayhan Itermedia,” kata M.Amir Jaya.

Namun yang membuatnya terkesan dan menjadi sejarah dalam kehidupannya sebagai penulis adalah ketika ia menjual dua motor kesayangannya karena ingin menerbitkan bukunya.

“Saya sudah dua kali menjual motor karena ingin menerbitkan buku. Motor saya merek Legenda dan Vega yang saya beli dengan susah payah terpaksa dijual dengan harga murah demi sebuah buku. Untung, istri saya tidak marah,” kata M.Amir Jaya sembari tersenyum ringan.

Lelaki dengan janggut putih ini, kini telah melahirkan banyak karya dan tercatat di buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia (ASPI)” sebagai penyair Indonesia, yang diterbitkan Yayasan Puisi Indonesia.(timsos/t7)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *